Menelaah Kisah Ibrahim – Ismail, Ini Pendidikan Orang Tua Kepada Anak

0
466

Karanganyar, Senin(04/09/2017) – Hikmah dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS bukan hanya sekedar ketaatan Ibrahim dan kesholehan Ismail, tetapi juga terdapat pelajaran berharga yang bisa diambil yaitu pendidikan oleh orang tua kepada anak. Hal tersebut diuraikan oleh Ust. Sutarno, S.Pi, MPd, ketika memberikan tausiyah dalam acara Pengajian Persama Keluarga Besar H. Hajriyanto Y T di Pondok Pesantren Putra Muhammadiyah kemarin sore.

Menurutnya dari kisah Ibrahim – Ismail dapat diambil pelajaran cara mendidik anak sehingga menjadi anak yang sholeh – sholehah yaitu kemandirian dan kesederhanaan, memilih lingkungan yang baik, selalu mendoakan anak, mengedepankan pendidikan agama serta menjalin komunikasi dan selalu bermusyawarah.

“Untuk mewujudkan Robbani Insan Cendikia, ada 5 hal yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim”, ungkapnya.

Poin pertama adalah kemandirian dan kesederhanaan. Ketika itu Ibrahim AS membawa dan meninggalkan istrinya Hajar dan bayinya Ismail di lembah tandus padang gurun atas perintah Allah. Hal itu merupakan salah satu kemandirian dan kesederhanaan yang diajarkan Ibrahim AS yang diabadikan dalam Al Quran (QS. Ibrahim 14: Ayat 37).

Allah SWT berfirman:

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
robbanaaa inniii askantu min zurriyyatii biwaadin ghoiri zii zar’in ‘inda baitikal-muharromi robbanaa liyuqiimush-sholaata faj’al af`idatam minan-naasi tahwiii ilaihim warzuq-hum minas-samarooti la’allahum yasykuruun

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

“Jangan isrof (berlebihan) dalam mendidikan anak, masih kecil dibelikan HP mewah, itu pendidikan yang salah”, tegas Ust. Sutarno.

Sutarno menambahkan, selain mengajarkan kemandirian, untuk mendidik anak juga harus memilih lingkungan yang baik. Lingkungan juga menentukan perkembangan anak. Bila mencari hunian, sebaiknya mencari hunian yang dekat dengan masjid, akan lebih baik bila tinggal di lingkungan santri.

“Orang tua yang tidak bisa mendidik anak, maka anak akan dididik oleh lingkungannya”, tambahnya.

Selalu mendoakan anak juga hal yang sangat penting. Jangan sampai sebagai orang tua tidak pernah berdoa untuk anaknya. Ia memberikan contoh doa orang tua kepada anak yang diambil dari Quran (QS. As-Saffat 37: Ayat 100).

Allah SWT berfirman:

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ الصّٰلِحِينَ
robbi hab lii minash-shoolihiin

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”

Ustad yang tinggal di Karanganyar kota ini juga menghimbau agar mengutamakan pendidikan agama untuk anak. Dia juga menyoroti fenomena orang tua yang memberikan penghargaan yang salah. Diantaranya memberikan hadiah untuk anak yang pelajaran Matematika bagus tapi tidak mendorong untuk pelajaran yang lain seperti agama.

“Kalo pendidikan Agamanya bagus, insyaAllah ilmu – ilmu yang lain mengikuti”, tegasnya.

Kegiatan yang diselenggarakan di Manggis, Lalung, Karanganyar tersebut diikuti oleh seluruh santri, PRM, PCM Karanganyar dan tamu undangan lain dari PDM Karanganyar. Drs. H. Annajib Tohari mewakili keluarga menyampaikan harapannya agar Pontren Putra Muhammadiyah berkembang sehingga mampu memberikan manfaat untuk masyarakat.

Selain tausyiah juga ditampilkan kreatifitas seni membaca puisi dan penampilan da’i cilik, Ananda Fatimah, dari TK Aisyiyah Manggis. (Oew)