Refleksi 2 Tahun Pandemi, Berikut Tiga Aspek Disoroti Ketua Umum PP Muhammadiyah

0
3715

KARANGANYAR – Perjalan hidup masyarakat Indonesia bahkan dunia dalam suasana Pandemi Covid-19, sebuah virus SARS mematikan yang bermula dideteksi kemunculannya di Wuhan China telah dilalui selama dua tahun. Muhammadiyah Covid-19 Commad Center (MCCC) sebagai lembaga adhoc bentukan Muhammadiyah bekerjasama dengan Pusat Studi Muhammadiyah pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (28/12) meneyelenggarakan Refleksi 2 Tahun Pandemi.

Refleksi dikemas dalam bentuk webinar dengan tema “Peran dan Kontribusi Muhammadiyah Dalam Penanganan Pendemi Covid-19” menggunakan saluran Zoom Meeting menghadirkan Keynote Speaker Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dengan narasumber Sunyoto Isman Guru Besar pakar politik islam UMY, Airlangga Hartarto Mentri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI yang diwakili Asisten Deputi Ferry Irawan, Muhadjir Effendy Menko Bidang PMK RI dan Agus Samsudin Ketua MCCC PP Muhammadiyah.

Mengawali sambutan keynotenya Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haidar Nashir menyampaikan kehadiran Muhammadiyah pada masa pandemi, terkait kontribusi secara kelembagaan. “Kehadiran Muhammadiyah diawal banyak dikaitkan dengan problem dan pandangan yang tidak mudah dicari titik temu dalam menghadapi musibah dengan timbulnya banyak perdebatan,” ujarnya.

Ada tiga aspek yang menjadi sorotan dari orang nomor satu di Muhammadiyah yang selalu tapil kale mini terkait refleksi atas apa yang telah terjadi dan dialamai selama dua tahun ini, diantaranya:

Pertama: Dari aspek agama, ketika terjadi musibah pandemi dengan eskalasi yang cukup tinggi agamawan tidak mudah mendiskusikan pemahaman agama, misalanya terkait prokes ketat bagi umat muslim yang melekat dengan ibadah jama’ah yang dilaksanakan di masjid menjdi ibadah munfarid dalam keluarga tidak mudah pergulatan dialog yang panjang. Bahkan Muhammadiyah tidak luput dari cap “dianggap terlalu rasional” bahkan sebutan “bermahdzab WHO” padahal Muhammadiyah bermahdzab Rasulullah SAW. Pencerahan dan dialog agama hadir dari Muhammadiyah butuh perjalanan panjang. “Namun demikian agama tetap harus menjadi solusi,” terang Haedar Nashir.

Kedua: Dari aspek kesehatan, peran Muhammadiyah cukup signifikan dalam hal ini dengan jumlah rumah sakit milik Muhammadiyah yang ratusan. “Tidak hanya sekedar program kesehatan reguler namun secara emergency yang butuh manajemen darurat dan mitigasi yang cukup berat, dimana titik akhirnya adalah kemanusiaan dan penyelamatan nyawa manusia,” ungkap Ketum PP Muhammadiyah.

Menurut Haidar, negara dan pelaku kesehatan tidak cukup tangguh ketika tiba-tiba menghadapi darurat pandemi. “Misalnya soal oksigen saja menjadi hal yang tidak mudah dan tidak siapnya kita. Bagaimana negara mulai membuat sistem kesehatan nasional yang kokoh dan tangguh terintegrasi secara keseluruhan menjadi yang penting, sementara Muhammadiyah harus kembali merevitalisasi program-program layanan kesehatan masyarakat komunitas (jama’ah) yang terinterigrasi dengan Amal Usaha Muhammadiyah yang makin kuat,” ujarnya.

Ketiga: Terakhir terkait kehidupan social ekonomi. Kita punya modal social yang hebat yaitu kerelawanan, gotong royong dan ketangguhan menghadapi masalah-malsah sosial. Diawal modal sosial kita sempat jebol sehingga tidak cukup itu saja tanpa adanya kapitalisasi yang tangguh “misalnya ketika itu masih adanya penolakan adanya jenazah covid”. Menurutnya isu sosial kemasyarakatan sebagai ujian kerelawaanan sosial. Terkait program-program Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) perlu kapitalisasi ke program yang lebih progresif tidak cukup program reguler saja, pada masa pandemi mesyarakt ekonomi lemah menjadi korban yang paling rentan ketika terjadi wabah. Melalui penguatan UMKM dengan transpormasi menjadi lebih naik kelas untuk menjadi lebih tangguh. Bangsa Indonesia perlu mengkapitalisasi sila ke 2 ke dalam sila 5 pancasila. Dalam masa sekarang menurut Haedar Nashir dari sisi ilmu-ilmu sosial tetutama politik adanya teori marxis yang menpertentangkan kaya dan miskin, pejabat dan rakyat bahkan gender laki-laki peremuan sudah tidak relevan lagi. Fase baru ilmu-ilmu sosial melalui ilmu politik yang tidak terlalu struktural dibuat pendekatan lebih modeerat dalam satu kesatuan. Menurut guru besar sosiologi ini pandemi telah mengajarkan perlunya rendah hati semua pihak baik pejabat maupun rakyat. (JOe).