Kader Terbaik Karanganyar Tulis Buku Kisah Keteladanan Orang-orang Muhammadiyah

0
768

Jakarta, -Salah satu kader terbaik Persyarikatan Muhammadiyah Karanganyar sekaligus Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hajriyanto Y. Thohari meluncurkan buku berjudul “Muhammadiyah dan Orang-orang yang Bersahaja”, Kamis (16/4).

Diluncurkan melalui forum Pusat Studi Islam, Perempuan, dan Pembangunan (PSIPP) Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta (ITB-AD), Hajriyanto mengungkapkan bahwa buku tersebut berisi kumpulan kisah-kisah teladan dari kebersahajaan tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Di dalamnya, teladan kesederhanaan, kerendah-hatian, ketulusan dan kezuhudan dari tokoh-tokoh Muhammadiyah di tengah jabatan tinggi seperti Syafi’I Ma’arif, alm. Malik Fadjar hingga alm. A.R. Fachruddin dikisahkan kembali.

Mengutip guru besar Sosiologi Universitas Indonesia Harsya W. Bachtiar, Hajriyanto mengungkapkan bahwa karakter bersahaja, pekerja keras dan suka menolong orang Muhammadiyah yang sempat diungkapkan oleh itu sebenarnya dahulu mudah dijumpai pada diri orang-orang Muhammadiyah.

Hajriyanto dalam buku tersebut nampaknya resah dengan karakter Muhammadiyah di atas yang dia rasakan kini mulai pudar oleh dinamika politik, arus keagamaan yang praktis, identitas Keislaman yang serba simbolik dan tidak substantif.

“Tulisan saya hanya reflektif, kasus-kasus peristiwa, dan momen-momen tertentu yang sifat permanennya sangat terbatas,” ungkap Hajriyanto merendah.

Pesan untuk Generasi Muda Muhammadiyah

Selain berharap generasi muda kembali dapat mengambil inspirasi dari kisah keteladanan orang-orang Muhammadiyah melalui bukunya, Hajriyanto berpesan agar generasi muda Muhammadiyah membiasakan diri untuk membuat berbagai macam karya tulis.

Selain memberikan kemanfaatan dengan karya tulis, seorang penulis menurut Hajriyanto lebih dikenal zaman daripada seorang pejabat publik yang namanya tenggelam seiring berlalunya zaman.

“Kalau ilmuwan, cendekiawan, itu lebih abadi betul. Jangankan dibandingkan dengan pejabat pemerintah, bahkan dengan ulama yang tidak menulis saja, itu ulama yang menulis lebih abadi,” jelas Dubes RI untuk Lebanon itu.

“Itu lihat keabadian nama Profesor Hamka, bandingkan dengan ulama-ulama yang sebagian besar lebih pintar dari Profesor Hamka tapi tidak menulis. Mereka itu (namanya) hanya muncul jika disebut oleh cucu-cucunya, anak-anaknya atau cucu-cucu muridnya,” imbuhnya.

Karena itu, Hajriyanto berharap generasi muda Muhammadiyah yang terjun dalam bidang penulisan menulis karya yang berbobot, akademik dan kuat secara metodologi dan teori.

“Saya berharap semoga bisa mendorong generasi muda Muhammadiyah untuk ada yang tampil kuat di panggung-panggung keilmuan, intelektual sebagaimana juga tampil pada panggung-panggung yang lain,” pungkasnya.

Wien_