Jawa Tengah – Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Pendidikan Khusus Kepala Sekolah dan Kepala Madrasah di BBPG Jawa Tengah, Jatikuwung, Gondangrejo. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, dimulai dari Kamis (3/10) hingga Minggu (6/10), dengan tema “Transformasi Pendidikan Muhammadiyah untuk Kepala Sekolah Berkompeten”.
Pendidikan ini dibagi menjadi delapan region di Jawa Tengah. Region pertama mencakup Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Wonogiri, dengan partisipasi mencapai 203 peserta yang disebut dengan kepala sekolah inspiratif.

Setelah acara pembukaan, ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, menekankan pentingnya program ini dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Ia menyatakan bahwa pendidikan harus terus berkembang, terutama dalam hal peningkatan kualitas.
“Indonesia saat ini berada di urutan bawah dalam pendidikan antar bangsa. Muhammadiyah, sebagai organisasi yang memiliki core business di bidang pendidikan, harus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas sekolah-sekolahnya,” ujar Dahlan. Ia juga memberikan ucapan selamat dan sukses kepada Dikdasmen dan PNF atas terselenggaranya kegiatan ini, serta berharap program ini dapat memberikan dampak positif bagi sekolah-sekolah.
Menyinggung mengenai kemunduran moralitas bangsa, Dahlan menegaskan pentingnya melibatkan masjid sebagai benteng moral, di samping pendidikan di keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, memberikan apresiasi kepada Dikdasmen PP dan PWM, serta fasilitator dan kepala sekolah inspiratif.
“Kualitas kepala sekolah sangat penting untuk kemajuan dan keunggulan sekolah dan madrasah. Maju mundurnya pendidikan tergantung pada kepala sekolah,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa peningkatan jumlah siswa baru hingga 100 persen adalah salah satu ukuran keberhasilan.

Iwan Junaedi, Wakil Ketua Dikdasmen PWM Jawa Tengah, menjelaskan peran kepala sekolah sebagai ujung tombak pendidikan. Ia menyebutkan bahwa masih ada lebih dari 2000 sekolah yang membutuhkan dukungan untuk mencapai kemandirian.
“Idealnya, setiap sekolah minimal memiliki 300 siswa. Slogan kami adalah ‘Meningkatkan PPDB 100 persen’ untuk menjadikan sekolah unggul dengan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan,” katanya.

Pahri, Ketua Tim Pendidikan Khusus dan Penjaminan Mutu Nasional Sekolah Madrasah Muhammadiyah, menjelaskan bahwa program ini diikuti oleh 203 peserta yang terdiri dari kepala sekolah inspiratif dan perwakilan dari berbagai daerah.
“Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas sekolah Muhammadiyah agar dapat menjadi unggul, mandiri, dan pilihan utama masyarakat,” ujarnya.
Fasilitator dalam kegiatan ini adalah praktisi yang telah berhasil mengembangkan sekolah Muhammadiyah dari kecil menjadi besar dan mandiri. Ke depan, akan ada pendampingan dan monitoring dari fasilitator serta Dikdasmen dan PNF PWM untuk memastikan pembinaan yang terencana dan terstruktur.














