Dien Syamsudin Ingatkan Muhammadiyah Jangan Terpancing Politik Praktis

0
427

Karanganyar, Ahad(02/09/2018) – Meski masih lama, namun euforia politik jelang Pilpres 2019 mendorong kalangan warga Muhammadiyah Karanganyar terus bersiap diri mencari pencerahan untuk menentukan pilihan kelak pada saatnya nanti. Salah satu upaya itu adalah dengan menggelar wahana diskusi politik bertajuk “DISKUSI IDEO POLITOR”. Adapun narasumber yang dihadirkan bervariasi mulai dari pengurus internal, tokoh lokal hingga tokoh nasional.

Kali ini untuk putaran ketiga, PDM MUHAMMADIYAH Karanganyar hadirkan tokoh nasional Prof. Dr. H. Dien Syamsudin M.A sebagai narasumber utama bertempat di Aula SMA MUH 1 Karanganyar (Sabtu 01/10/2018).

Pada kesempatan itu Dien menegaskan harga mati bahwa Muhammadiyah secara struktural dan secara organisatoris tidak ada ikatan dengan Partai politik manapun kapanpun. Sehingga peran Muhammadiyah dalam urusan politik adalah gerakan transformasi nilai-nilai kebangsaan bukan politik praktis dukung mendukung apalagi mencalonkan diri atas nama Muhammadiyah.

” Bicara Islam dan Muhammadiyah dalam konteks politik itu ya sensitif tapi tetap saja Muhammadiyah juga berpolitik hanya saja gerakannya bersifat kebangsaan bukan dukungan” ujarnya.

Menurut Dien belajar dari sejarah panjang berdirinya NKRI ini juga tak bisa dilepaskan dari politik ala Ormas saat itu. Yakni Muhammadiyah tidak membuat partai resmi, tetapi warga Muhammadiyah getol gerilya melakukan loby-loby kepada para pengambil keputusan bangsa.

“Buka buku sejarah salah satu saja contoh bagaimana saat dibentuk Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia BPUPKI saat itu tokoh Muhammadiyah HOS Cokro Aminoto getol mengkonsep tentang Piagam Jakarta yang penuh pertentangan karena menyangkut ideologi bangsa. Itu kan politik namanya dan tokoh Muhammadiyah berperan utama meski Muhammadiyah bukan partai” tandasnya.

Bahkan lanjut Dien, sesaat jepang hancur dibom, maka empat sekawan warga Muhammadiyah bersama Ir Soekarno melakukan loby ke Jepang secara langsung meminta percepatan kemerdekaan bagi Indonesia.

Terkait contoh di atas ditarik dalam konteks politik era sekarang. Dien meyakini warga Muhammadiyah secara pribadi-pribadi sudah paham untuk menyusun langkah melakukan yang terbaik untuk bangsa ini.

Warga Muhammadiyah itu menurut Dien terkenal berani ketika terjadi ketimpangan sosial apalagi kemungkaran terhadap agama dan nilai-nilainya. ” Urusan warga Muhamadiyah mau dukung siapa. Cukup diberikan sinyal saja sudah tanggap” sindirnya.

“Intinya Muhammadiyah bebas memilih karena warga Muhammadiyah ada dimana-mana tetapi dilarang berpolitik praktis” tambahnya.

Sementara itu Ketua PDM MUHAMMADIYAH Karanganyar Drs. H. Muh Samsuri, MSI mengatakan melihat kondisi gonjang ganjing politik nasional maka pihaknya lakukan terobosan dengan menggelar wahana politik ala umat yaitu Diskusi berkala IDEO POLITOR.

Menurut Samsuri acara diskusi itu akan terus digenjot agar menarik dan up date sehingga warga Muhammadiyah bisa tercerahkan.

“Nanti kita sempurnakan acara tersebut terutama format waktu dan nara sumber nya antara Nasional regional dan lokal” tandasnya.

Bahkan lanjut Samsuri acara itu bisa diperluas skala audiennya melibatkan banyak orang banyak lembaga luar untuk bergabung sehingga mirip acara di televisi swasta yaitu ILC Indonesia Lawyer Club. ” Untuk skala kabupaten bukan tidak mungkin acara Diskusi IDEO POLITOR kita arahkan semirip acara ILC” ungkapnya.

Untuk itu Samsuri meminta panitia bisa memastikan waktunya agar berputar antara 3 Minggu sekali atau Sebulan sekali. (MPI PDM Kra – Benni)