Blended Learning: Solusi Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

0
1056

Oleh : Novita Ruswanti, S.Pd.
PPG PRAJABATAN
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Masa pandemic Covid-19 berbagai kegiatan dari berbagai sektor terpaksa berhenti akibat penyebaran virus Covid-19. Salah satunya yaitu pendidikan, proses belajar mengajar yang semula biasa diadakan di kelas harus berganti menjadi pembelajaran secara daring karena kondisi. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mengharuskan pembelajaran dilakukan secara daring.

Akibat adanya pandemi Covid-19 ini, pemerintah menerbitkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 21/2020. Upaya menghindari penyebaran Covid-19 dengan jaga jarak fisik atau social distancing ini tentu saja menimbulkan perubahan di berbagai bidang, tak terkecuali pendidikan.

Regulasi baru di tetapkan dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan pendidikan dalam masa darurat Coronavirus Disease (Covid 19). Kondisi tersebut mengharuskan semua lembaga pendidikan untuk melakukan inovasi pembelajaran yang biasaya dilaksanakan di sekolah. Pelaksanaan pembelajaran harus dilakukan secara daring (Syah, 2020).Pelaksanaan pendidikan di Indonesia pada masa pandemi dilaksanakan dengan sistem belajar dari rumah atau pembalajaran dalam jaringan (daring).

Pembelajaran daring merupakan hal baru sehingga memberikan tantangan tersendiri bagi guru sebagai pengelola pembelajaran. Sebelum pandemi, banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menciptakan iklim belajar yang menyenangkan di dalam kelas di antaranya dengan menggunakan metode, strategi dan media pembelajaran yang menarik serta dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa.

Namun praktik pembelajaran daring tak luput dari berbagai kendala, mengingat guru tidak dapat bertatap muka secara langsung dengan siswa di dalam kelas. Untuk itu, guru perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada salah satunya harus kreatif dan inovatif dalam pembelajaran daring. Pembelajaran daring sangat bergantung pada teknologi modern, seperti halnya penggunaan platform Microsoft Office 365 dalam kegiatan pembelajaran. Ada beberapa fitur dalam Microsoft Office 365 yang dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran daring antara lain:

  1. One Drive untuk menyimpan administrasi kelas yang sudah disusun oleh guru,
  2. Forms untuk membuat soal evaluasi pembelajaran,
  3. Sway untuk membuat bahan ajar, dan
  4. Teams untuk melaksanakan pembelajaran virtual dengan siswa.

Namun penggunaannya belum maksimal dan masih ditemui beberapa kendala, baik dari guru maupun siswa. Kendala yang muncul dari siswa antara lain masih ada beberapa siswa yang tidak mempunyai smartphone, orang tua/ wali murid yang bekerja sehingga tidak bisa mendampingi siswa dalam proses pembelajaran, dan kendala utama yaitu jaringan internet yang tidak stabil, karena lokasi sekolah yang berada di wilayah pedesaan. Kendala-kendala yang muncul tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh guru. Guru harus menciptakan pengalaman belajar yang sama bagi semua siswa.

Regulasi Pemerintah tentang pelaksanaan pembelajaran jarak jauh tidak sepenuhnya diberlakukan di beberapa daerah. Daerah yang termasuk zona hijau diperbolehkan untuk melaksanakan tatap muka meskipun waktunya terbatas serta tetap mengedepankan protokol kesehatan (BCC News, 2020). Inilah yang menuntut Kepala Sekolah dan para guru di wilayah zona hijau untuk menunjukkan inovasi pembelajaran.

Salah satu inovasi yang dilakukan sekolah adalah dengan menerapkan pembelajaran berbasis Blended Learning. Blended Learning mengacu pada belajar yang mengombinasi atau mencampur antara pembelajaran tatap muka (face to face) dan pembelajaran berbasis internet (online) (Idris, 2018; Wardani et al., 2018). Blended Learning merupakan jenis pembelajaran yang menggabungkan pengajaran klasikal (face to face) dengan pengajaran daring.

Blended Learning dapat meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik. Selain itu, adanya interaksi dalam model pembelajaran Blended Learning menciptakan suatu motif kepada peserta didik untuk berkompetisi dalam belajar (Usman, 2019).

Di antara sekolah yang telah menggunakan pembelajaran berbasis Blended Learning di Kabupaten Karanganyar ialah SD Negeri 01 Delingan, yang beralamat di desa Ngrenak, Delingan, Karanganyar.

Blended learning adalah sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online. Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blanded learning bisa menjadi solusi untuk memberikan pengalaman belajar yang sama kepada siswa dengan cara pembelajaran daring dan tatap muka melalui home visit.

Home visit  tentu saja dilaksanakan tanpa mengabaikan protokol kesehatan dengan beberapa ketentuan antara lain:

  1. Mematuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 5 M (Mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas)
  2. Kegiatan pembelajaran tidak lebih dari 2 jam dan bagi siswa yang sakit tidak mengikuti pembelajaran.
  3. Pembelajaran dilaksanakan kurang dari 4 orang

Pada implementasinya, kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 01 Delingan memfokuskan pada kegiatan pembelajaran tatap muka dalam menjelaskan materi pembelajaran. Dalam hal ini, SD N 01 Delingan menerapkan aplikasi pada WattApp dan Googleform untuk menyampaiakan materi kepada siswa. Untuk menutupi kekurangan waktu dalam menjelaskan materi pelajaran apabila siswa kurang jelas, dapat dilakukan melalui home visit yang dilaksanakan satu minggu sekali dengan mematuhi protocol kesehatan.

Sekolah memberikan layanan bimbingan tambahan bagi siswa yang belum memahami materi melalui home visit. Pada saat home visit dilakukan secara bergiliran, yaitu pada minggu pertama guru mengunjungi kelompok A, kemudian pada minggu kedua guru mengunjungi kelompok B, dan seterusnya dengan pembagian siswa pada setiap kelompok terdiri dari 3-5 siswa yang jarak rumahnya dekat. Interaksi terjalin dengan baik. Respond orang tua sangat support terhadap kegiatan pembelajaran putra-putrinya, walaupun tugas dikirim kepada guru saat siang atau sore hari tetapi semua siswa mengumpulkan tugas dengan baik.

Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam mengelola waktu belajar di kelas agar proses pembelajaran tetap berjalan dengan efektif. Beberapa kelebihan dalam pembelajaran berbasis Blended Learning, adalah dapat dilaksanakan kapan saja dan di mana saja, dapat menumbuhkan sikap mandiri pada diri peserta didik, lebih efektif dan efisien, lebih mudah diakses oleh peserta didik, dan lebih luwes dan tidak kaku (Usman, 2019). Dengan demikian, diharapkan pembelajaran di masa pandemi lebih maksimal. Sebagai seorang guru, tentu harus memahami kebutuhan peserta didik. Untuk itu, guru harus inisiatif, kreatif, dan inovatif. Mari sukseskan pembelajaran di masa pandemi!