Karanganyar – Memasuki abad ke-2 ini, Muhammadiyah mencanangkan Trisula baru pergerakannya yaitu pemberdayaan masyarakat, penanggulangan bencana dan gerakan Lazismu. Sebelumnya, Trisula lama yang telah mendarah daging di Muhammadiyah selama 108 tahun yaitu pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial. Dengan Trisula baru ini diharapkan gerakan yang dibentuk pertama kali oleh KH. Ahmad Dahlan ini bisa semakin berkembang dan bermanfaat untuk seluruh masyarakat tidak hanya untuk golongan tertentu saja.
Trisula baru ini dikenalkan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Libanon, Drs. H. Hajriyanto Yasin Thohari, M.A. Menurut Hajriyanto, dengan hadirnya Trisula baru ini tidak berarti meninggalkan Trisula lama yang sudah mengakar di Muhammadiyah. Hal itu disampaikannya ketika menjadi pembicara dalam kegiatan Rakor Triwulan putaran ke-13 bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Karanganyar, tadi malam (18/12).
“Dulu muhmmadiyah ada Trisula lama, yaitu pendidikan, kesehatan dan sosial, Trisula lama tidak ditinggalkan karena di Muhammadiyah sudah settle (mapan), sudah berada on the right track”, jelasnya.
Salah satu Trisula baru yang harus ditingkatkan adalah gerakan Lazismu. Dalam pandangannya, Lazismu saat ini masih harus ditingkatkan pengelolaannya, bahkan pelopor pengelolaan Zakat Infaq Shodaqoh modern adalah pendiri Muhammadiyah yaitu KH. Ahmad Dahlan.
“Orang pertama yang memulai memodernisasi zakat infaq dan shodaqoh adalah KH Ahmad Dahlan. Dulu diserahkan ke modin, kalo santrinya kuat (diserahkan) ke Kiai, maka KH Ahmad Dahlan lah yang memodernisasi pengelolaan zakat”, tambah Hajriyanto.

Peningkatan pengelolaan Lazismu ini juga bertujuan untuk kemandirian persyarikatan. Selain pengelolaan ZIS, pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan bencana juga harus ditingkatkan. Hajriyanto menambahkan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan terbesar di dunia yang menjadi tulang punggung Indonesia. Tidak ada gerakan sebesar ini, bahkan di negara – negara Arab tidak ada. Dalam penanggulangan bencana, Muhammadiyah Disaster Managemen Center (MDMC) merupakan voluntarismes, kerelawanan, kerja kemanusiaan. Orang – orang yang bekerja di bidang kemanusiaan pasti terbuka dan bertoleransi tinggi. Sehingga Hajriyanto sempat menyentil beberapa oknum yang merasa dirinya paling bertoleransi.
“Muhammadiyah terlalu dewasa untuk diajari toleransi, terlalu tua untuk diajari tentang kemajemukan , justru Muhammadiyah harus mengajari kepada mereka toleransi dan kemajemukan”, pungkasnya.
Rakor Triwulan putaran ke-13 dilakukan secara virtual diikuti oleh seluruh Pimpinan dan warga persyarikatan. Hajriyanto sendiri menjadi pemateri Rakor melalui aplikasi Zoom dari Libanon. (MPI PDM Kra – Oki)
GALERI



























