KABARDUABELAS.COM, Surakarta (24/08) – Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki peran yang signifikan dalam membentuk budaya literasi di kalangan masyarakat. Sejak berdirinya pada tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah menempatkan pendidikan dan literasi sebagai pilar utama dalam misinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu instrumen penting dalam upaya ini adalah pers.
Muhammadiyah telah berperan aktif di dunia pers sejak 1920-an melalui penerbitan majalah “Suara Muhammadiyah”. Media ini berfungsi sebagai alat komunikasi dan pendidikan bagi anggota Muhammadiyah serta masyarakat luas. Tujuan pers Muhammadiyah adalah menyebarluaskan pemikiran Islam yang berkemajuan, memberantas kebodohan, dan melawan kolonialisme.
Pers Muhammadiyah memiliki peran penting dalam membentuk opini publik dan menyebarkan nilai-nilai moral serta intelektual, sesuai dengan tujuan Muhammadiyah untuk menjadi corong dakwah yang membahas tidak hanya agama, tetapi juga pendidikan, kesehatan, dan isu sosial. Media Muhammadiyah juga berfungsi sebagai alat kontrol sosial dengan memberikan informasi, mengkritik kebijakan yang tidak pro-rakyat, dan mengadvokasi keadilan sosial.
Muhammadiyah memandang literasi sebagai kunci utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Literasi mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pers Muhammadiyah berperan sebagai medium literasi yang menghubungkan umat dengan pengetahuan dan informasi yang benar.
Di era digital saat ini, pers Muhammadiyah menghadapi tantangan baru berupa maraknya hoaks, informasi palsu, dan konten yang tidak mendidik. Untuk menghadapi tantangan ini, pers Muhammadiyah dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif dalam menyajikan konten yang relevan dan berkualitas.
Selain melalui media, Muhammadiyah juga meningkatkan literasi melalui jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan Muhammadiyah menekankan pentingnya literasi sebagai bagian dari kurikulum, agar siswa tidak hanya mahir membaca dan menulis, tetapi juga berpikir kritis, memahami teks, dan mengomunikasikan ide dengan baik.
Muhammadiyah memandang penguatan literasi sebagai bagian dari jihad intelektual, yaitu perjuangan untuk meningkatkan kualitas intelektual dan spiritual umat. Dengan literasi yang kuat, umat Islam diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman, berperan aktif dalam masyarakat, dan menjadi agen perubahan yang positif.
