Oleh Muhammad Isnan
“ Orang Papua selalu bilang tidak ada hutan tanpa Tuhan,
itu artinya sejenggal tanah ini ada pemiliknya “
Frida Klasi – Pengamat Budaya Papua
Media tak pernah berhenti untuk dijadikan objek gagasan. Sebagai pilar ke empat dalam pembangunan bangsa, peran media sangat signifikan menentukan arah keberpihakan masyarakat kepada bangsanya. Melalui pendekatan ekonomi politik media, proses perubahan nilai guna menjadi nilai tukar dikenal dengan istilah komodifikasi. Mosco dalam (Fabianus 2022) mendefinisikan bahwa komodifikasi media sebagai proses transformasi dan pergeseran nilai dari nilai guna kepada nilai tukar. Dalam perkembangan media saat ini, banyak media bertransformasi menjadi media industri. Imbasnya maka akan terjadi kapitalisasi media oleh kepemilikian perseorangan. Terjadi konglomerasi media yang ujung – ujungnya independensi media hilang dan para pelaku media hanya berorientasi pada kepuasan pada penguasa dan pemilik media.
Walaupun komodifikasi media dikaitkan dengan pasar bebas bisnis kapital, tetapi masih ada beberapa media yang menyajikan konten untuk memberikan nilai edukasi kepada masyarakat. Salah satu bentuk nyata media online berupa channel youtube milik watchdoc documentary. Channel youtube tersebut saat ini memiliki pengikut kurang lebih 507 rb subscriber dengan video sebanyak 277 video. Eksistensi akun ini adalah kuasa nyata bagaimana nilai guna media yang tadinya hanya sebatas memberikan informasi menjelma menjadi nilai tukar informasi sekaligus alat perlawan. Kampanye di media tidak hanya dimulai dengan aksi – aksi demontrasi berbentuk orasi melainkan visualisasi berbentuk documenter tentang Gambaran nyata kerusakan alam dan lingkungan akibat tangan serakah manusia. Dalam beberapa video, channel ini memberikan edukasi yang real tentang bagaiman tayangan media menjadi alat perlawan dan kontrol penguasa akibat lalainya dalam menjaga alam raya.
Walaupun Karl Mark menyebut bahwa komodifikasi media selalu mendahulukan peraihan keuntungan dan menyebut pemilik media bersemayam dalam bentuk ideologi kapitalisme media, maka perhatian utamanya dalam sumber daya pemilik media. Dalam konteks media sebagai alat perlawanan pada isu lingkungan, maka apa yang ditampilkan oleh watchdoc documentary adalah kebalikan dari komodifikasi yang sesungguhnya banyak terjadi di kanal media saat ini.
Yang terbaru misalnya konten tentang film AFSYA : Membela Hutan Adat. Dalam transkrip di film tersebut menjelaskan bahwa kisah ini adalah tentang perjuangan masyarakat Papua menentang perusakan hutan untuk dijadikan lahan industry minyak sawit. Dengan latar belakang sumber menyoroti bagaimana pentingnya perlindungan dan pengakuan masyarakat adat, demi bumi kita dan kemanusiaan. Sampai saat ini masyarakat adat suku Afsya hutan adat mereka tetap terjaga. Selalu bertahan ditengah ancaman tangan penguasa yang merampas aset tanah dan tumbuh – tumbuhan yang menjadi sumber ketahanan pangan. Diakhir video memberikan harapan kepada pemerintah agar tanahnya tidak akan diberikan kepada perusahaan. Mari kalau ada hutan yang ada akan kita kelola dengan baik ungkap para pemeran film tersebut.
Komodifikasi media. terutama komodifikasi konten (film) untuk mempengaruhi penonton agar memiliki hati nurani dalam kepedulian terhadap kerusakan lingkungan. Maka ketika nilai guna komunikasi digeser kepada nilai tukar maka akan terjadi satu kesepahaman antara isi film dengan tujuan film dibuat. Secara nilai etik dalam isi film, maka seluruhnya berisikan fakta supaya dapat dipahami secara mendalam oleh penonton. Realitas dalam komunikasi tidak hanya berisi tentang informasi tetapi hubungan timbal balik antara penyedia konten dengan penikmatnya. Tujuan yang sesungguhnya ingin dicapai adalah batalnya seluruh agenda yang berusaha untuk merusak lingkungan. Semakin banyak penikmat channel watchdoc documentary maka akan semakin banyak masyarakat sadar bahwa kejahatan lingkungan atas nama pemilik modal dan keuntungan abal – abal dekat dengan mereka.
