Oleh: Teguh Anshori, Sekretaris Muhammadiyah Karanganyar
Latar Belakang
Belum lama kita diperkenalkan era industri 4.0, kita sudah diperkenalkan lagi era baru society 5.0 yang diluncurkan oleh otoritas Jepang. Hal ini tentu berdampak pada berbagai bidang, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya hingga pendidikan. rasanya diskusi tentang era industri 4.0 belum tuntas, bahkan di Negara Indonesia belum ada gerak-gerik perubahan yang nyata. Kita ketahui bersama bahwa era 4.0 merupakan era industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Sejarah revolusi industri dimulai dari industri 1.0 yang dikenal dengan masyarakat perburuan, 2.0 yang dikenal masyarakat pertanian, 3.0 yang dikenal dengan masyarakat industri, hingga industri 4.0 yang dikenal dengan masyarakat informasi.
Sementara itu society 5.0 yang diluncurkan oleh Jepang berkaitan dengan perangkat kecerdasan buatan yang bersahabat dengan manusia. Artinya society 5.0 diintegrasikan dengan industri 4.0. Dalam masyarakat informasi yang lalu, praktek umumnya adalah dengan mengumpulkan informasi melalui jaringan dan informasi tersebut dianalisa oleh manusia. Namun, dalam Society 5.0, masyarakat, benda-benda, dan sistem-sistem semuanya dihubungkan dalam ruang virtual dan hasil-hasil yang optimal diperoleh oleh AI, yang mampu melampaui kemampuan manusia, dan akan diberikan kembali ke ruang nyata. Dengan diluncurkannya society 5.0, menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat menyesuaikan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Maka kedepan permasalahan-permasalahan yang terus membelenggu bangsa ini agar segera diselesaikan sehingga pemerintah bisa totalitas dalam menyambut datangnya era society 5.0.
Fakta diatas tentu mengandung konsekuensi positif dan negatif, jangan sampai timbul kecerdasan buatan yang harus memisahkan diri dengan manusia sebagai antroposentrisme, perlu adanya korespondensi antara makro cosmos dan mikro cosmos. Kader Muhammadiyah tentu memiliki tanggungjawab dan berperan secara aktif dalam dinamika tersebut, Kader Muhammadiyah memiliki potensi secara individu dan organisasi. Sudah semestinya dan selayaknya Kader Muhamadiyah menjadi tauladan terdepan dalam memberikan solusi nyata.
Dimensi Ontologis Kader Muhammadiyah
Dalam keilmuan filsafat, ontologi merupakan teori yang membicarakan tentang hakikat. Sedangkan hakikat adalah keadaan yang sebenarnya. Muhammadiyah sebagai Gerakan dakwah amar ma’ruf Nahi Munkar yang sudah berusia satu abad lebih menjadi Ormas Keagamaan yang diperhitungkan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara dalam kancah lokal, regional, nasional maupun internasional.
Tujuan Muhammadiyah yang mulia adalah Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud Masyarakat Islam yang Sebenar- benarnya. Sebagai sebuah persyarikatan , upaya untuk mencapai tujuan itu merupakan pekerjaan kolektif yang dilakukan oleh pimpinan, kader dan anggota Muhammadiyah.
Kerja kolektif tersebut memerlukan orang-orang memahami keyakinan hidup dan tujuan hidup Muhammadiyah dan merasa terpanggil untuk ikut melaksanakannya serta merasa berkewajiban untuk menghindari penyimpangan ideologi Muhammadiyah, merekalah yang disebut dalam istilah lama “penganjur” dan istilah sekarang “kader”.
Kader Muhammadiyah adalah anggota inti yang menjadi bagian terpilih dalam lingkup dan lingkungan pimpinan serta mendampingi tokoh-tokoh di sekitar pimpinan. Kader lahir dari hasil pendidikan Muhammadiyah sehingga menjadi anggota inti yang memiliki komitmen terhadap perjuangan dan cita-cita Persyarikatan.
Perkembangan amal usaha yang pesat di Muhammadiyah menyebabkan pengendalian manajemen menjadi kurang efektif karena rentang kendali yang semakin jauh dan bersifat otonom sehingga membawa pengaruh pada terabaikannya aspek ideologi karena tuntutan profesionalisme dan pragmatisme. Tugas kader adalah untuk mengembalikan hakikat dan tujuan Muhammadiyah.
Tugas pokok kader adalah, Pertama, mempertahankan eksistensi organisasi. Kedua, menjaga kemurnian ideologi. Ketiga, menghindari distorsi terhadap maksud dan tujuan Persyarikatan. Maka tersedianya pasokan kader yang cukup di amal usaha merupakan sebuah keniscayaan.
Dimensi Epistemologi Kader Muhammadiyah
Epistemologi merupakan teori filsafat berkaitan dengan pertanyaan seputar apa kriterianya.
Dalam Q.S An-Nisa ayat 9 menjelaskan :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah,yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka .Oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar ( Qs.An-Nisa /4: 9).
Ayat di atas pada hakekatnya merupakan perintah Allah untuk menyiapkan generasi muda Islam yang kuat dan tangguh menghadapi masa depan Islam. Islam tidak menginginkan generasi yang lemah baik dari segi fisik,sosial, kecerdasan, ekonomi, maupun ideologi, sehingga akan berpengaruh terhadap kualitas kesejahteraan sosial dan budaya masa depannya.
Dalam konteks kader Muhammadiyah, senada dengan ayat tersebut, bahwa kriteria kader Muhammadiyah haruslah kuat dalam berbagai aspek. Secara kompetensi bahwa kader Muhammadiyah paling tidak memiliki empat kriteria unggulan, Pertama, Keunggulan dalam potensi diri dan kemandirian. Kedua, Keunggulan dalam Ke-Islam-an dan Ke-Muhammadiyah-an, Ketiga, Keunggulan dalam kepemimpinan dan keorganisasian, Keempat, Keunggulan dalam Kemanusiaan dan Kebangsaan.
Pertama, Keunggulan dalam potensi diri dan kemandirian. Kader Muhammadiyah memiliki Keunggulan dalam mengembangkan potensi diri. Kemandirian dalam ekonomi. Kesungguhan mengembangan profesi dan karir pada minat dan keahliannya masing-masing. Bersikap kritis, inovatif, dan kreatif terhadap perubahan zaman. Beradaptasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Berkomitmen terhadap etos kerja menurut Islam.
Kedua, Keunggulan dalam Ke-Islam-an dan Ke-Muhammadiyah-an. Kader Muhammadiyah bersikap terbuka, objektif, dan moderat dalam memahami agama. Ketaatan dalam pengamalan ajaran agama, baik dalam bidang aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawiyah. Kemauan meningkatkan pemahaman ajaran Islam. Berkomitmen terhadap ideologi dan perjuangan Islam berkemajuan (Muhammadiyah).
Ketiga, Keunggulan dalam kepemimpinan dan keorganisasian. Kader Muhammadiyah memiliki Kemampuan menggerakan kader di berbagai level kepemimpinan organisasi. Ketaatan terhadap aturan-aturan organisasi serta perundang-undangan yang sah di negara republik Indonesia. Kemauan mengembangkan organisasi ke arah yang lebih maju. Kemauan membangun kemandirian organisasi.
Keempat, Keunggulan dalam Kemanusiaan dan Kebangsaan. Kader Muhammadiyah memiliki Kepedulian terhadap permasalahan sosial kemasyarakatan, lingkungan, ekonomi, dan keagamaan. Bersikap kritis terhadap problematika berbangsa dan bernegara. Kecerdasan dalam membangun narasi, wacana, dan keilmuan. Berkomitmen terhadap berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Itulah yang dimaksud dengan Kader Berkeadaban, yaitu kader yang mampu mengkombinasikan secara proporsioanal potensi yang dimiliki, kader yang bukan hanya saleh secara individu tetapi juga harus saleh secara kolektif, karena era 5.0 menuntut untuk kerja-kerja kolektif dan berkesinambungan.
Regenerasi dan Transformasi Kader Muhammadiyah
Regenerasi adalah peremajaan usia pimpinan, sebuah siklus alami dalam pergantian pimpinan yang sudah uzur digantikan oleh generasi mudanya. Secara lebih luas regenarasi adalah sebuah pembaharuan semangat kepemimpinan dalam menghadapi perubahan, yang mencakup Reformasi atau pembaharuan struktural, Renovasi atau penciptaan nilai-nilai baru dan Restorasi atau pemurnian nilai asal.
Dalam kehidupan Muhammadiyah masalah regenerasi telah mendapatkan porsi perhatian yang cukup baik. Dari segi normatif Islam sudah mengajarkan nilai-nilai dasar tentang kekuasaan, kepemimpinan, pendidikan dan regenerasi sebelum patah sudah tumbuh sebelum hilang sudah berganti. Sedangkan menyangkut mekanisme regenerasi , sejak Kyai Dahlan telah disiapkan sistem kaderisasi dengan didirikannya sekolah dan organisasi otonom (ORTOM) serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai wadah kaderisasi dan persiapan regenerasi pimpinan Muhammadiyah.
Transformasi kader merupakan proses perubahan fungsi dan peran kader ke tahap lanjut untuk menempati posisi tertentu dalam persyarikatan Muhammadiyah. Transformasi sebaiknya memperhatikan standar kualifikasi, kompetensi dan kapabilitas dalam bidang keahlian tertentu sesuai dengan jargon fungsi bahwa Penganjur/Kader adalah pelopor, pelangsung, penyempurna dan Penjaga Muhammadiyah. Transformasi bisa dilakukan pada sesama ORTOM seperti dari IPM ke IMM atau ke PM dan NA. Disamping itu transformasi kader juga bisa dilakukan dari ORTOM pada pos-pos tertentu di Persyarikatan Muhammadiyah,baik pada struktur organisasi Muhammadiyah maupun di Amal Usaha Muhammadiyah.
Diversifikasi kader Pemuda Muhammadiyah ada jargon yang terkenal yaitu kader persyarikatan, ummat dan bangsa. Bahkan Buya Syafii Ma’arif menambahkan dengan dimensi kader kemanusiaan. Diversifikasi kader dengan demikian dimaksudkan meningkatkan peran dan orbit kader tidak hanya di persyarikatan namun juga di lembaga eksternal Muhammadiyah, semisal Politik, Hukum, Ekonomi, Kesehatan, Sosial-Kemasyarakatan, Pres dan lain sebagainya.
Strategi Transformasi dan Diversifikasi Kader Pemuda Muhammadiyah yaitu dengan cara Mobilitas Sosial, artinya berusaha untuk mendudukkan kader secara kolektif dan individual agar dapat naik dalam tangga sosial secara berjangka panjang. Metodenya adalah pendidikan SDM (Sumber Daya Manusia) yang sejak awal diniatkan untuk mobilitas sosial. Dengan demikian diperlukan perencanaan dan jaringan agar supaya strategi ini berjalan dengan baik.
Strategi Mobilitas Sosial dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu Struktural dan Kultural. Secara Struktural kader ditempatkan kedalam Lembaga-lembaga yang yang terstruktur dan bergerak dalam Gerakan kekuasaan, cara yang bisa ditempuh adalah dengan jalan mendudukkan kader di lembaga legislatif ( DPR (D),DPD dan MPR) atau di eksekutif. Disamping itu juga bisa duduk pada lembaga pengawasan pada birokrasi ,TNI dan Polri dan Pemilu. Atau bisa melalui LSM yang bersifat politis seperti gerakan pekerja. Secara Prinsip dalam strategi ini adalah perubahan struktur dengan lewat legislasi. Metodenya adalah pemberdayaan dan aliansi,dalam rangka reformasi,evolusi maupun gradual.
Strategi Pendekatan Kultural. Strategi ini berusaha menempatkan kader pada lembaga yang mempengaruhi cara pikir masyarakat seperti lembaga pendidikan dan penyadaran ( seminar, penerbitan, dakwah, lobi, media massa) dengan pendekatan individual dan hasilnya baru bisa dilihat secara jangka panjang.
Dimensi Aksiologi Kader Muhammadiyah “Madrasah Kader Berkeadaban”
Aksiologi merupakan teori filsafat yang berkaitan dengan prosedural dan operasional suatu obyek. Kedepan, Kader Muhammadiyah selayaknya membuat sebuah Madrasah Kader Berkeadaban. Madrasah yang dimaksud disini adalah lembaga formal maupun informal, yaitu lembaga yang mampu menkombinasikan pendidikan yang bersifat keislaman dan yang bersifat umum. Madrasah Kader Berkeadaban sangat dibutuhkan keberadaanya untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama yang sanggat di butuhkan dalam kehidupan di masa ini, untuk memberikan pendidikan moral kepada calon-calon pemimpin bangsa, seandainya tidak ada lagi lembaga-lembaga yang mengajarkan pendidikan Islam sudah jelas bisa di pastikan kehancuran bangsa ini sudah dekat, karena pemimpin-pemimpin bangsa pasti tidak mengetahui ilmu-ilmu agama sehingga perbuatanya akan semakin bebas sesuai keinginanya.
Urgensi adanya gerakan Madrasah Kader Berkeadaban tersebut paling tidak menjawab alasan :
- Sebagai manifestasi dari realisasi program Muhammadiyah
- Supaya mampu mengembangkan Program Muhammadiyah yang lebih baik sesuai dengan tuntutan di era 5.0
- Sebagai Usaha penyempurnaan terhadap sistem Perkaderan Muhammadiyah
- Adanya sikap mental di pemuda Islam, khususnya yang mereka terpukau pada sistem Barat.
- Sebagai upaya menciptakan SDM Kader Muhammadiyah yang lebih bermutu serta dapat mengahadapi perekembangan teknologi.
Referensi :
- AD dan ART Muhammadiyah
- Sistem Perkaderan Muhammadiyah
- Teguh Anshori, “Manajemen Organisasi”, Materi BA PDPM Surakarta
- Agus Sumiyanto, “Mencari peran dalam orbit kader Muhammadiyah” Materi BAM
- Hatib Rahmawan, “Sistem Perkaderan Pemuda Muhammadiyah”, Materi Instruktur Nasional
- Nur Isnaini Albanjari “MADRASAH BERKEADABAN DI ERA 5.0”
