Kian Resahkan Masyarakat, PWI dan AJI Kecam Keras “Wartawan Abal – Abal”

0
177

KARANGANYAR – Makin meluasnya keresahan Kepala Sekolah dan Kepala Desa, terkait kian maraknya praktek wartawan abal-abal, berbuah kecaman keras dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Dua organisasi profesi wartawan atau jurnalis terakreditasi nasional ini, mengecam keras praktik penyimpangan profesi wartawan yang makin marak di hampir seluruh wilayah Soloraya.

Penyimpangan profesi wartawan yang dilindungi UU No. 40/1999 tadi, disebutkan kasus permintaan uang oleh orang yang bukan berprofesi wartawan, namun mengaku awak media, wartawan atau jurnalis kepada para kepala sekolah maupun kepala desa.

Selama ini, praktek ilegal para oknum yang juga mengaku LSM tadi, lebih dikenal sebagai wartawan abal-abal, wartawan bodrek alias wartawan gadungan.

Karena aksi para oknum wartawan abal-abal itu makin meluas dan sangat meresahkan masyarakat, selain mengcam keras PWI Surakarta dan AJI Solo juga mendesak aparat Kepolisian segera menindak tegas, mereka dan memproses secara hukum.

Pasalnya, selain mencemarkan profesi wartawan yang kinerjanya dilindungi Undang-undang, juga telah merugikan dan meresahkan masyarakat, terutama para kepala sekolah negeri maupun suwasta, dan para kepala desa beserta perangkatnya.

“Kian marak dan meluasnya penyimpangan profesi wartawan ini, sudah sangat memprihatinkan. Baik bagi para wartawan profesional, maupun intitusi media cetak maupun elektronik”, kata Kustawa Esye, pengurus PWI Surakarta, menegaskan.

Disebutkan juga, kasus terakir terjadi di Kabupaten Sragen, sebagaimana diberitakan berbagai media beberapa hari ini. Sebelumnya, kasus permintaan sejumlah uang dari oknum mengaku wartawan, kepada para kepala sekolah dan kepala desa, juga terjadi di Solo, Klaten, Boyolali, Sukoharjo dan Karanganyar.

Ditegaskan juga, aksi wartawan abal-abal yang juga berkedok LSM, untuk mencari keuntungan pribadi ini harus dilawan bareng-bareng. Baik organesasi profesi wartawan, para jurnalis profesional, aparat penegak hukum maupun masyarakat.

Menurut Kustawa Esye, pelanggaran hukum para wartawan gadungan tadi harus ditindak tegas. Alasannya, dalam proses panjang membangun integritas pers profesional di Indonesia, justru dinodai ulah mereka ini.

“Aparat penegak hukum harus segera bertindak, kepada oknum wartawan abal-abal yang melakukan pemerasan kepada sejumlah pihak”, tegas wartawan senior yang akrap disapa Cak Koes tersebut.

Menurutnya, kasus meminta uang oleh oknum yang mengaku wartawan, kepada siapupun harus segera dihentikan. Selain akan menghancurkan kepercayaan publik terhadap pers, juga sangat menodai profesi wartawan.

Dalam waktu dekat ini, baik PWI Surakarta maupun AJI Solo, akan beraudiensi dengan aparat penegak hukum di wilayah Soloraya, untuk lebih menspirit menindak tegas para oknum yang mengaku wartawan dan melakukan pemerasan tadi.

Ditandaskan juga, praktik meminta uang dan sejenisnya, tidak pernah dilakukan oleh jurnalis atau wartawan profesional, karena dalam menjalankan tugas tanggung jawab profesinya, berpegang pada aturan dalam Undang-Undang No. 40/1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Pasal 5 UU Pers, menyebutkan kewajiban pers nasional adalah memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah. Peran pers dijelaskan dalam Pasal 6, di antaranya memenuhi hak publik untuk mengetahui informasi.

“Karena itu, praktik meminta selain informasi, apalagi uang atau materi lannya, jelas bertentangan dengan undang-undang”, kata Kustawa Esye, redaktur poskita.co yang jugs pengurus PWI Surakarta.

Hal senada juga disebutkan Ketua AJI Solo, Adib M Asfar. Menurutnya, praktik itu juga dilarang secara tegas dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Pasal 2 KEJ menyebutkan, wartawan Indonesia harus menempuh cara-cara profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Sedangkan Pasal 6 KEJ jelas menyebutkan, wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. (*/)

Caption Foto;
Kustawa Esye, redaktur poskita.co dan pengurus PWI Surakarta

Bagikan