TvMu Info

Suara Warga

Suarakan kabar anda di Twitter dengan hastag #kabarduabelas , otomatis muncul di bawah ini.

kabarduabelas Tasharuf Kurban Untuk Kemanusiaan Lazismu Daerah Karanganyar Diakhir Hari Tasyrik https://t.co/cEukd8x1uEhttps://t.co/4FZFoFs1jA
Agus_Purwadi RT @kabarduabelas: Bakti Sosial IMM Karanganyar “Menghilangkan Sifat – Sifat Kehewanan” https://t.co/1HKjAFqARg #kabarduabelas https://t.co
mas_JOe_ RT @kabarduabelas: Sang “Tikus Putih” Pedakwah Muhammadiyah Dari Lereng Gunung Lawu https://t.co/ov6ph6Mc7U #kabarduabelas https://t.co/gha
mas_JOe_ RT @kabarduabelas: Bakti Sosial IMM Karanganyar “Menghilangkan Sifat – Sifat Kehewanan” https://t.co/1HKjAFqARg #kabarduabelas https://t.co
kabarduabelas Bakti Sosial IMM Karanganyar “Menghilangkan Sifat – Sifat Kehewanan” https://t.co/1HKjAFqARg #kabarduabelas https://t.co/nmTNy7T663

Facebook Fanpage

Facebook By Weblizar Powered By Weblizar
Berita Daerah

106 Tahun Pemikiran Tokoh Muhammadiyah Untuk Negeri Dibukukan

Karanganyar, Ahad(21/04/2019) – Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah membukukan pemikiran para tokoh Muhammadiyah untuk Indonesia, sejak organisasi tersebut lahir hingga sekarang. Buku yang berjudul “Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah Untuk Indonesia Berkemajuan” tersebut berisi 300-an halaman memuat setidaknya 64 tokoh disusun secara urut alfabetik mulai dari tokoh berawalan nama huruf A yakni Ahmad Badawi, sampai tokoh berawalan nama huruf Z yakni Zainuddin Fananie. Meski baru 64 tokoh, kedepan akan diterbitkan lagi jilid – jilid berikutnya karena masih banyak tokoh yang belum tercover dalam buku tersebut.

Hal itu disampaikan Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi MPI, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si, ketika memberikan sambutan dalam acara “Bedah Buku Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah” yang digelar  Sabtu kemarin (20/04) di Gedung PP Muhammadiyah Jogjakarta.

“2014 lalu kita menerbitkan 100 tokoh Muhammadiyah, kali ini kita menerbitkan buku lagi tapi baru 64 orang yang tercover, nanti akan dilanjutkan buku – buku berikutnya”, tutur Dadang Kahmad.

Menurutnya, isi buku tersebut luar biasa untuk sumbang pemikiran bagi Indonesia. Ragam pemikiran bervariasi dipengaruhi oleh situasi ketika itu sehingga pemikiran antar satu tokoh dengan tokoh yang lain berbeda. Selain karena situasi, juga dipengaruhi oleh perkembangan Islam dan latar belakang kehidupan dimana para tokoh tersebut tinggal. Pemikiran para tokoh Muhammadiyah lebih cenderung etika universal, tidak membeda – bedakan SARA.

“Orang Muhammadiyah itu ber-etika universal, berhubungan dengan siapa saja cair, berbuat baik tidak lagi membedakan SARA, etika universal ini hanya ditemui di lingkungan yang berperadaban tinggi, tidak mungkin kita temui di Beiruen atau Tolikara”, tambahnya.

Prof. Dr. Munir Mulkhan ketika menjadi Narasumber bedah buku

Dalam kegiatan bedah buku tersebut, hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Guru Besar Emiritus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Buya Syafii Ma’arif juga direncanakan hadir tetapi harus menuju ke Sumatera Barat karena ada kepentingan. Munir menyoroti banyak hal terhadap buku tersebut mulai prakata, konten, hingga daftar pustaka. Ia menekankan bahwa gerakan Muhammadiyah selama ini didasari oleh kemanusiaan, bukan untuk meng-Islamkan non Islam atau me-Muhammadiyahkan non Muhammadiyah. Ia juga mengajak agar Muhammadiyah melakukan rekonstruksi kebangsaan.

“Muhammadiyah perlu rekonstruksi kebangsaan, dalam berpolitik tidak boleh ber-tawadu'”, tambahnya.

Bedah buku yang diakhiri menjelang Dzuhur tersebut dihadiri oleh seluruh MPI Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Jateng dan DIY. Acara dibuka sesi tanya jawab bagi para peserta. (MPI PDM Kra – Oki)