Suara Warga

Suarakan kabar anda di Twitter dengan hastag #kabarduabelas , otomatis muncul di bawah ini.

No tweets returned

Facebook Fanpage

Facebook By Weblizar Powered By Weblizar
Berita Daerah

Ketua LHKP PWM Jawa Tengah : Jadikan Kerja Politik Sebagai Amal Usaha Muhammadiyah

Karanganyar, Sabtu(16/02/2019) – Kerja politik atau pengabdian melalaui jalur politik harus sungguh-sungguh dengan niatan ibadadah sebagai media dakwah, jadikan kerja politik sebagai Amal Usaha Muhammadiyah yang baru. Penegasan itu disampaikan Ketua LHKP PWM Jawa Tengah Khafid Sirotuddin dalam acara Temu Kader Muhmmadiyah Pejuang Kebangsaan di Aula Lt 1 Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Karanganyar, Jum’at (15/02).

Dalam acara bertema “Peran Warga Muhammadiyah Dalam Menyukseskan Pemilu 2019” yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Karanganyar dan diikuti oleh sekitar 250 orang pimpinan, majelis/lembaga, ortom, AUM dan kader Muhammadiyah yang aktif dan sedang proses kerja di politik, baik melalui partai politik maupun panitia penyelenggara pemilu. Khafid Sirotuddin mengawali isian materi yang dikemas dalam bentuk “ngaji bareng” ini dengan 3 pilar penyangga Muhammadiyah tetap eksis.

Menurut aktivis ormas kepemudaan era 90an ini, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah tajdid amar ma’ruf nahy munkar akan tetap berdiri selama ada 3 pilar yaitu : Jama’ah yang dipelihara, manajemen atau tata kelola yang baik dan amal usaha.

“Sudah waktunya Muhammadiyah menjadikan politik sebagai salah satu Amal Usaha Muhammadiyah, dalam arti menempatkan kader-kader terbaik untuk kerja politik guna mendukung dakwah dan gerakan umat” kata Khafid.

“Jujur saja, dalam dakwah ini butuh posisi dan amunisi sebagai penunjang. Karena dengan banyaknya kader-kader Muhammdiyah di posisi politik akan dapat membantu program-program dakwah persyarikatan melalui kebijakan dan penganggaran. Jika tidak siapa yang akan mau memikirkan Muhammadiyah dan umatnya”

Dengan gaya “guyonan” ala Panturaan, kader “oplosan” dari orang tua Muhammadiyah dan NU ini menyindir, “ada sekian puluh tahun sebuah departemen dikuasai 90% kader ormas tertentu, akhirnya banyak amal usaha seperti pondok dan sekolah-sekolah yang terbantu melaluinya. Ini sekedar contoh kecil, ketika kader baik kita bisa ditempatkan pada posisi-posisi politik tertentu tentu dapat membantu persyarikatan juga dalam mengembangkan dakwah”.

Terakhir anggota legislatif Provinsi Jawa Tengah selama 15 tahun yang periode ini terpanggil lagi untuk maju kembali melalui Partai PAN pada Dapil Jateng 2 yang meliputi Kabupaten Semarang, Kota Kendal dan Kota Salatiga ini meminta kepada warga Muhammadiyah dan pimpinan persyarikatan agar kader yang kerja di politik tidak dilepas begitu saja, “jangan di “culne”(dilepas) begitu saja, harus selalu dikawal dan diperhatikan biar tidak salah jalan”. (MPI PDM Kra-JOe).